life.mufid.stream |
Hi! Welcome! :) |
Orang-orang yang berkecimpung dalam computer science akan sering bilang “ini mahal”. Biasanya maksud mahal di sini adalah waktunya yang mahal. Loh, orang-orang CS komersil donk? Ummm… mahal di sini berarti waktu, tapi tunggu sebentar.. “Mahal” itu adalah suatu hal yang dihindari oleh para programmer.
Sayangnya, sayang sekali, hanya sedikit programmer yang menghindari “mahal” ini. “Ah, kan ini program kecil, mahal juga gak papa donk”. Betul tidak apa-apa. Tetapi jika Anda membuat kode yang mahal itu karena Anda TIDAK MENGERTI menghindari kode yang mahal,… itu kesalahan besar.
Pada kenyataannya, pemahaman matematik yang kuat akan sangat membantu membuat kode yang murah secara waktu.
Saya tidak tahu apakah istilah mahal ini ada hubungannya dengan masa lalu atau tidak. Dulunya, komputer hanya dimiliki oleh beberapa instansi saja karena harganya yang sangat mahal. Untuk dapat menggunakan komputer tersebut, kita harus menyewanya. Menyewa ini, kita harus membayar per satuan waktu. Artinya, makin lama program kita dijalankan, makin mahal uang yang harus dibayarkan.
Saya juga gak tahu apakah ada hubungannya dengan sekarang. Misalnya Anda menyewa komputer Cloud. Hitungannya pun masih sama: semakin membutuhkan sumber daya yang besar, semakin Anda harus membayar lebih untuk sumberdaya yang lebih.
Orang-orang CS itu bukan komersil kalau bilang mahal, bukan berarti malas, tapi ini istilah yang wajar yang sering digunakan untuk menyebut “prosesnya tidak cepat”
Untuk teman, saya gak tega mengkomersilkannya. Apalagi, jika ini untuk masalah kebaikan. APALAGI, kalau ini Long Term Project untuk kebaikan!
Ini sebagai bentuk disclaimer saja. Selama kuliah ini, saya mencari ilmu, bukan mencari uang.
Akan banyak project open source yang insya Allah saya inisiasi tahun ini :) Mudah-mudahan bisa tercapai. Kalau Anda mantengin di Github memang nama saya masih sepi, tapi doakan saja bisa bermanfaat bagi semua : )
Do It for Free, for Better Ummah. Itu yang saya inginkan. Apakah kita bisa jadi manusia-manusia berani yang bekerja non profit untuk Indonesia yang lebih baik? (mudah-mudahan)
Salam
Gua selalu bilang ini setiap berhadapan dengan media:
… orang Indonesia itu latah. Kalau ada apa2, pasti ikut2an deh. Ini kelemahan sih, sekaligus bisa dimanfaatkan juga.
Sedihnya, kok anak UI juga ikutan latah yah.
Sejujurnya, gw malu SIAKNG masuk trending topics di twitter. Alhamdulillah sekarang udah tenggelam lagi.
Gua gak perlu menyeratakan alasan kenapa gw malu. Common sense, kan?
Tapi lucu juga sih, apa segitu parahnya sampai2 jadi trending topic?
Jadi ceritanya kan orang-orang ingin buru-buru menjadi yang pertama di kelas, takut gak kedapetan kelas yang jadwalnya enak. Oke, itu bisa dipahami. Tapi gw gak paham aja se-UI mengumbar ini habis-habisan di Twitter.
Ya mari kita doakan saja, semoga anak-anak UI, termasuk gw, menjadi anak-anak didikan bangsa yang tumbuh dewasa dan berpegang penuh pada kebijaksanaan bersikap, yang bisa terus membangun masa depan bangsa, mewujudkan Indonesia yang modern dan maju.
Pengantar Redaksi
”Masih pakai Microsoft, to? Pantes gak saya buka. Saya biasanya akan langsung buka kalau .odt. Kalau .doc dicuekin…,” demikian jawaban Onno W Purbo saat Kompas mengingatkan tenggat jawaban darinya untuk rubrik ”Kompas Kita”. Kompas memang melampirkan pertanyaan dari pembaca dalam format Microsoft Word.
Begitulah gaya Onno berjuang. Walaupun menyebut dirinya ”an ordinary Indonesian”, rakyat Indonesia biasa saja, di dunia teknologi informasi (TI), Onno sesungguhnya adalah seorang tokoh luar biasa. Kiprah pakar bidang TI ini tak diragukan lagi. Dia berjuang untuk akses internet murah dan perangkat lunak open source Linux. Onno percaya filosofi ”copyleft”. Banyak tulisannya dipublikasikan secara gratis di internet.
Mantan dosen Institut Teknologi Bandung itu menyebar keahliannya setiap saat, dari kota ke kota. Selain pakar internet, dia juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar.
Dia tidak memegang smartphone seperti kebanyakan orang Indonesia yang genit dengan gadget canggih teranyar. Onno menggunakan netbook dan telepon seluler Android merek lokal. Selain aktif menyebarkan Linux, Onno juga dikenal dengan RT/RW-net, jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah. Karya inovatif lain dia adalah Wajanbolic, koneksi internet murah tanpa kabel.
Mungkinkah kita membuat jaringan Wide Area Network (WAN) di desa dan antardesa, termasuk yang remote area seperti desa-desa di Pulau Kangean dan Pulau Sepanjang, Madura, untuk transaksi online antarwarga desa? (Heru Hartanto, Madiun)
Pembuatan jaringan WAN sangat sederhana sebetulnya, baik antardesa, antarkota, maupun antarpulau.
Semakin pendek jarak, semakin mudah, semakin murah, dan semakin tinggi kecepatan.
Semakin jauh jarak, biasanya semakin mahal dan semakin rendah kecepatan.
Masalahnya adalah berapa biaya yang disediakan.
Ilmu membangun jaringan RT/RW- net ini bisa dibaca di http://belajar.internetsehat.org/wiki/index.php/Teknologi_RT/RW-net.
Untuk wilayah agak luas, jangkauan beberapa puluh kilometer, ada baiknya membaca e-book jaringan wireless di dunia berkembang http://wndw.net.
Untuk wilayah sepanjang Jawa-Madura atau Indonesia, sebaiknya menyewa backbone dari operator kemudian disebar menggunakan RT/RW-net karena akan lebih murah.
Jika pada suatu hari nanti kita semua beralih ke cloud computing, operating system, data storage, dan lain-lain, semua berada di cloud. Apa yang harus disiapkan khususnya oleh negara Indonesia? Bagaimana kiat agar aman dari kejahatan di cloud? (Sunu Permana, xxxx@gmail.com)
Saya melihat cloud sebagai mekanisme virtualisasi saja. Membuat sebuah sumber daya bisa bermanfaat lebih banyak.
Cloud akan tetap membutuhkan server, membutuhkan teknisi, dan membutuhkan programmer, kecuali Anda ingin membeli semua dari provider komersial.
Kejahatan di cloud tak berbeda jauh dengan kejahatan yang ada sebetulnya. Jadi, teknik penyiapan sumber daya manusianya sama dengan infrastruktur yang sekarang sebetulnya.
Pak, mengapa di Indonesia kecepatan akses internet tidak seperti negara Asia yang lain, khususnya Jepang dan Korea Selatan? (Manan Tarigan, Medan)
Kalau dilihat dari sisi komersial sebetulnya sederhana. Kalau kita membeli barang eceran, pasti harganya akan mahal. Kalau kita membeli barang gelondongan, pasti harganya akan murah. Kalau kita memakai produk/server lokal, pasti harganya murah. Kalau kita memakai produk/server luar negeri, pasti membuat harganya mahal.
Saya ingin menanyakan tentang teknologi Super WiFi. Bagaimana penerapannya di Indonesia kelak? Adakah kemungkinan free seperti di frekuensi 2,4 GHz? (Guntur Pramono, xxxx@gmail.com)
Super WiFi bekerja di sela-sela frekuensi televisi di frekuensi 600 MHz. Asumsinya, televisi yang digunakan adalah televisi analog seperti yang sekarang, jadi ada sela antarkanal yang bisa dimanfaatkan.
Masalah dengan Indonesia ke depan, regulator akan memblok band televisi di UHF ini untuk kanal televisi digital. Jadi, tak akan ada sela sama sekali. Konsekuensinya, Super WiFi kemungkinan besar akan sulit diadopsi karena harus bertempur melawan investor televisi digital yang sudah membayar mahal untuk izin frekuensi.
Apakah internet gratis yang stabil dan berkualitas mungkin diwujudkan? (Miranti Cahyaningtyas, Gegerkalong, Bandung)
Jika kita cermat menelaah sejarah dan teknologi internet, sebetulnya internet dibangun atas dasar gotong royong dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat.
Kita di Indonesia sering terkecoh menyangka bahwa internet hanya dapat dibangun operator dan provider dengan izin pemerintah. Ini salah besar!
Kalau kita telaah sejarah Internet Indonesia di http://belajar.internetsehat.org/wiki/index.php/Sejarah_Internet_Indonesia, awal internet di Indonesia adalah oleh rakyat Indonesia, bukan oleh pemerintah, bukan operator.
Kalau saja rakyat Indonesia menyadari ini dan mau mempelajari teknologinya, mau menginvestasikan, dan mau mengimplementasikan teknologinya, bukan sesuatu yang mustahil untuk memperoleh internet kecepatan tinggi yang stabil untuk memenuhi hak bangsa Indonesia.
Sayang, memang pemerintah kita sering tidak melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif.
Kapan Indonesia bebas dari batasan, Pak? (Hendrikmsz, xxxx@yahoo.com)
Hmm…. Mungkin ini akan terjadi saat rakyat Indonesia berani mandiri berani berdikari; berani membuat infrastrukturnya sendiri; berani membuat gadget sendiri; berani membuat dan memakai sistem operasi sendiri; berani membuat server dan informasi sendiri; serta berani lepas dari ketergantungan pada bangsa lain….
Merdeka!
Saya juga alumnus ITB. Ayahanda Anda adalah Prof Hasan Purbo, Guru Besar Arsitektur ITB. Keahlian Anda di bidang teknologi informasi, rada jauh dengan Prof Purbo. Apakah beliau memberi kebebasan sepenuhnya kepada Anda? (Berlin Simarmata, xxxx@gmail.com)
Mungkin lebih tepatnya ayah saya almarhum secara langsung ataupun tak langsung banyak mengarahkan saya menjadi saya yang sekarang ini. Pengaruh beliau tampaknya justru sangat kental, he-he-he.
Mungkin bidang ilmu saya lebih ke arah TI, ini pun kebetulan ayah saya yang mengarahkan waktu saya kelas III SMA.
Yang lebih dominan adalah pola saya bergerak di masyarakat. Saya banyak sekali mengadopsi pola-pola yang digunakan ayah saya dalam memberdayakan lingkungan hidup melalui mekanisme pemberdayaan masyarakat dan gerakan-gerakan yang bersifat bottom-up berbasis komunitas. Maklum, saya sering secara tak sadar mendengarkan ayah saya mengobrol dengan teman-temannya di rumah di malam hari dulu.
Masyarakat TI Indonesia sering dikatakan jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Menurut pendapat Kang Onno, cara apa yang paling efektif agar Indonesia dapat mengatasi ketertinggalan ini? (Sutiono Gunadi, Pamulang, Tangerang Selatan)
Mungkin bangsa ini tertinggal dari tetangga kita. Mungkin bangsa ini lebih miskin dari tetangga kita.
Namun, saya percaya bangsa ini bukan bangsa yang bodoh. Saya pribadi sering diundang untuk memberikan workshop TI untuk Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan lain-lain. Saya melihat bahwa kita bisa. Bangsa ini bisa!
Kuncinya ada di sistem pendidikan.
Kalau saja kita bisa melakukan manuver supaya 240.000 sekolah melek TI, 46,5 juta siswa kita melek TI dan menjadi pandai.
Saya yakin Singapura, Malaysia, dan Vietnam tak ada artinya apa-apa. Kuncinya ada di sistem pendidikan di Indonesia, bagaimana supaya 5 juta siswa masuk SD per tahun dan menghasilkan 5 juta sarjana setiap tahun.
Jangan seperti sekarang, hanya 600.000 orang yang jadi sarjana per tahun. Kita harus merombak sistem pendidikan yang ada agar hak asasi manusia untuk menjadi pandai terpenuhi.
Apa resep Anda kepada orang-orang muda Indonesia untuk bisa dan mau berjuang menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi bangsa dan negara, yang notabene terbelenggu oleh konsumerisme instan? (Willy Soen, Solo)
Mungkin itu merupakan akumulasi strategi saat saya lepas atau pensiun dari PNS pada Februari 2000. Saya menjadi penganggur tanpa ada naungan (institusi).
Saya hanya bisa hidup saat saya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Semakin banyak yang merasakan manfaat, semakin baik untuk saya. Saat saya tak bermanfaat, saya akan mati dengan sendirinya.
Rasanya sesederhana itu intinya, Pak.
Apa alasan utama Anda lebih memilih gadget buatan negeri sendiri? Menurut Anda, apa yang perlu ditingkatkan dari segi kualitasnya? (Andini, xxxx@gmail.com)
Betul, kebetulan saya banyak pakai barang buatan sendiri (Indonesia), baik itu ponsel, laptop, server, maupun sistem operasi.
Saya percaya, bangsa ini hanya akan menjadi bangsa yang besar saat kita bisa mencintai apa yang kita buat sendiri.
Terus terang, dari sisi kualitas tidak jelek lo ponsel, laptop, dan server buatan Indonesia. Sama seperti buatan luar negeri.
Visi Anda adalah membuat pintar rakyat indonesia agar dapat hidup dari otaknya, bukan ototnya, tetapi Anda memilih melakukannya di luar sistem birokrasi. (Mochamad Mulyana, Duren Sawit, Jakarta)
Saat ini saya masih belum percaya dengan birokrasi di Indonesia. Kebanyakan mekanisme program di birokrasi di Indonesia lebih suka pengadaan barang dan mengutip untung dari persenan. Maklum, saya sudah beberapa kali kena batunya.
Saat program di birokrasi lebih suka untuk memandaikan dan memberdayakan masyarakat serta tidak melakukan persenan, mungkin saya akan berpikir untuk bersinergi lebih baik
Selama ini, apakah produk-produk karya yang Bapak ciptakan sudah menyeluruh masuk ke daerah-daerah? Bagaimana cara Bapak untuk bisa merambah dan produk ini bisa dinikmati masyarakat Indonesia? (Subkhan, Ngaringan, Grobogan, Semarang, Jawa Tengah)
Terus terang dulu semua ide dan detail teknik dari berbagai inovasi yang saya utak-atik bisa bapak baca secara gratis antara lain di http://belajar.internetsehat.org/wiki.
Saya cuma rakyat Indonesia biasa. Saya bukan pejabat. Saya tak mempunyai banyak energi, uang, dan tenaga untuk menyosialisasikan inovasi tersebut ke bangsa Indonesia agar mereka yang di pelosok bisa menikmati inovasi tersebut.
Oleh karena itu, saya akan sangat berterima kasih kepada Anda-Anda yang mau membantu menyosialisasikan inovasi-inovasi tersebut ke ujung dunia di Indonesia.
Kang Onno, salam kebebasan. Sederhana pertanyaanku. Kenapa Kang Onno tak mau menjadi menteri? Tentu menteri yang tetap menjadi rakyat Indonesia biasa. (Robbyka Gheo, Makassar)
Jawaban singkatnya: tidak!
Jawaban panjangnya: saya lebih suka menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsa ini.
Saya percaya bahwa nilai seseorang tak akan ditentukan oleh banyaknya harta, banyaknya kekayaan, tingginya pangkat dan jabatan, tingginya gelar, serta banyaknya ilmu. Nilai seseorang akan lebih ditentukan oleh berapa besar/banyak umat manusia yang memperoleh manfaat dari seseorang tersebut. (ush)
(Source: nasional.kompas.com)

Pernah ada yang nyeletuk ke saya saat melihat baris-baris kode, “.. terus warnanya juga beda-beda yaa, itu kan ada artinya warna-warnanya ..” saya berpikir cukup lama, ternyata maksudnya adalah warna-warna di IDE.
IDE, Integrated Development Environment, merupakan suatu software yang bisa digunakan untuk membuat software lagi (baiklah, Anda tidak sedang nonton inception kok, ini nyata). Layaknya Anda menulis surat, Anda bisa menggunakkan iWork Pages, MS Word, Libreoffice Writer, atau lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu pun IDE.
IDE ada banyak yang bisa digunakan. Dan punya banyak fitur, ada yang bisa debug, bisa melihat stack trace, ada yang bisa refactor, dan istilah-istilah yang katanya gak begitu manusiawi lainnya.
Salah satu fitur yang PASTI ADA (kalau gak ada, kebangetan) di setiap IDE adalah color coding. Color coding adalah fitur yang menyulap teks hitam-putih menjadi berwarna. Selain supaya punya nilai artistik, yang lebih penting adalah melihat kode dengan mudah. Misalnya, angka diwarnai berbeda dengan kutip, membuat programmer lebih aware menentukan mana angka dan mana string.
Jadi, warna-warna dalam baris kode itu bukan programmer yang ngewarnain, tetapi IDE-nya.
Buat mereka yang bener-bener tidak pernah menyentuh pemrograman, ada beberapa hal unik yang sebenarnya ‘lazim’ di kalangan programmer, tetapi tidak lazim di kalangan umum.
Salah satunya sintaks, atau tata bahasa program. Aturan-aturan dari sintaks ini akan menentukan bagaimana sang programmer menulis perintah ke dalam baris kode. Kemudian, baris kode ini akan diterjemahkan ke dalam perintah yang lebih rumit tetapi dimengerti oleh komputer (bytecode, opcode, atau apalah itu namanya).
Aturan-aturan ini membentuk satu kumpulan yang bernama bahasa pemrograman (programming language).
Misal, dalam bahasa Java, Anda dapat menuliskan perintah matematik seperti ini:
int tambah;
int angka1 = 20;
int angka2 = 30;
tambah = angka1 + angka2;
Dalam bahasa Assembly (dalam hal ini, AVR), Anda dapat menuliskan perintah matematik yang sama dengan di atas dengan cara berikut:
.def angka1 = r1
.def angka2 = r2
.def hasil = r3
.def pindahi =r16
ldi pindahi, 20
mov angka1, pindahi
ldi pindahi, 30
mov angka2, pindahi
add angka1, angka2
mov hasil, angka1
Persis seperti bahasa Inggris, bahasa Cina, dan bahasa lainnya, memiliki aturan tata bahasa yang berbeda (tetapi kadang serupa).
Kejadian yang aneh: di BK, gw selalu manggil orang yang ada di sana dengan KAK. Termasuk untuk membalas ucapan SMS selamat (yang dari 50 orang itu gak semuanya gw kenal).
Kan ada juga yang seangkatan. Akhirnya terkesan ada yang menertawakan, “kita kan seangkatan ~” Untungnya orang di sana baik-baik.
Akhirnya gw mengambil kesimpulan: memanggil kak atau tidak, itu gak penting, langsung sebut nama juga gak masalah.
haha. have a nice day :)
Salah gw nge-follow kakak-kakak yang mau lulus, isinya galau semua -___-
mudah-mudahan saya bisa mengambil hikmah :)
Andreas Senjaya. (via isnidalimunthe)
Inilah Sikremut alias Sistem Informasi Kereta Komuter! Produk hasil...
Tadi siang saya ga sengaja baca cendramata yang didapet dari...
Lagi, Presiden Jerman mengundurkan diri
“Ich habe Fehler gemacht.” Saya telah melakukan kesalahan. Begitulah salah satu kata yang dilontarkan...
#GerakanMenutupAurat 2
“He (Allah) released the two seas, meeting (side by side); Between them is a barrier (so) neither of them transgresses.” (QS. Ar Rahman: 19-20)